Merumuskan Masalah adalah Bagian Penting dari Solusi

Kakang Linus Torvald (pencetus Linux) sebagaimana dikutip oleh Eric Steven Raymond dalam bukunya yang legendaris "The Cathedral and The Bazaar" mengakui kalo penemuan dari suatu masalah menempati posisi yang penting, bahkan lebih penting dari dan menantang dibanding penemuan solusi. Kadangkala, kebuntuan dalam menagani suatu masalah adalah akibat definisi masalah yang keliru.

Hmmm.... jadi kepikiran lagi nih tugas berat untuk mencari solusi masalah pendidikan kita. Di luar negeri saja model pendidikan mulai diarahkan untuk terjun mencari pengalaman dan jam terbang di dunia nyata adalah agar setiap individu selain menjadi pemecah masalah, ia juga dapat menjadi perumus masalah yang baik. Hal ini untuk mengimbangi kegiatan di kelas dimana kebanyakan para siswa menerima sebuah soal yang sudah jadi..

Lalu bagaimana tidak khawatir jika melihat kondisi kita di Indonesia dimana para pengajar hanya menghadirkan soal hapalan dan bahkan tidak jarang soal puluhan tahun lalu karena malas buat soal baru (yang berkebalikan dengan buku cetak yang berganti terus), sementara para siswa dapat terbiasa dengan menghafal solusi dari soal-soal yang sudah ada.

                            

Apakah kita sudah rasional dalam mengkonsumsi obat-obatan?

Beberapa hari yang lalu Palembang hujan terus, jadinya hampir semua orang dewasa di rumah kena flu, termasuk Abi dan Umi-nya Lila huhuhu. Lila juga ikut-ikutan rewel, padahal kalo diliat-liat sih tidak ikut tertular.

Tapi buat jaga-jaga Umi-nya langsung browsing dan mencari informasi-informasi seputar pencegahan, pengobatan dan penaganan flu untuk bayi di internet. Dan dari sebagian banyak artikel, kita dapat artikel dari website sehatgroup.web.id yang sangat bagus dan mencerahkan yang ditulis oleh Dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed.

Artikel ini berjudul Common Problems in Pediatrics, yang secara garis besar adalah membahasa isu Rational Use of Drugs (RUD) khususnya pada masalah kesehatan yang umum terjadi pada anak.

Selain informasi cukup detail untuk cara penanganan per penyakit yang sering terjadi pada anak, artikel ini juga memberi beberapa informasi-informasi penting khususna berkaitan dengan RUD.

Disini saya akan coba kutip beberapa informasi tersebu, hmm yang pertama adalah dimulai dengan mengetahui hak dan kewajiban kita sebagai pasien atau konsumen kesehatan.

Apa hak konsumen kesehatan? Memperoleh informasi  yang benar dan obyektif. Hal ini sesuai dengan tugas seorang tenaga kesehatan. Tugas dokter bukan hanya KURATIF (mengobati kondisi sakit), melainkan juga EDUKATIF PROMOTIF (penyuluhan kesehatan) dan upaya PREVENTIF (Pencegahan).

Apa kewajiban konsumen? Learn as much as possible. Salah satunya adalah mencari informasi, mempelajari dasar-dasar kesehatan dan mempelajari segala sesuatu perihal penyakit yang sedang dialami. Manfaatkan kemajuan teknologi yanga ada. Cari informasi kesehatan melalui internet, tetapi selektiflah memilih situs yang dipercaya. Be active, speak up terutama saat medical visit. Jika perlu cari 2nd opinion.

Kesalahan kita biasanya adalah minta langsung sembuh, atau sedikit-sedikit minta antibiotik, padahal ...

Sebagian besar penyakit yang kita obati dengan antibiotik penyebabnya adalah virus, yang tidak bisa "dilawan" oleh antibiotik.

Beberapa alasan terjadinya tindakan abusive ini adalah:

  • Pasien  meminta obat yang cespleng – apa saja – termasuk antibiotik kalau perlu antibiotik yang superkuat
  • Bagi dokter, jauh lebih mudah menulis resep dibandingkan harus bersusah payah memberi penjelasan, menenangkan orang tua.

Ingat...hanya keadaan tertentu saja yg memerlukan antibiotik, dan mayoritas penyakit pada anak – disebabkan oleh infeksi virus, yg samasekali tdk membutuhkan antibiotik. Misal pada penyakit flu khususnya sangat dianjurkan untuk mencoba dengan mengobati sendiri dengan memperbanyak istirahat dan konsumsi cairan (ASI pada bayi), sebelum terburu-buru ke dokter.

Penggunaan obat khususnya antibiotik yang tidak bijak bukan hanya membahayakan si pemakai yang bisa saja kita atau bayi kita yang mengkonsumsinya, tapi bisa orang lain disekitar kita;

Setelah pemakaian antibiotik selama beberapa dekade, ternyata bermunculan banyak bakteri yang resisten (kebal) terhadap antibiotik. Hal ini membuktikan bahwa pemakaian antibiotik yang tidak rasional/membabi buta, justru akan merugikan pasien dan khalayak luas. Antibiotik merupakan satu2nya obat yang memiliki dampak sosial yang besar.

Contoh. Anak X sering memakan antibiotik setiap kali demam atau pilek.batuk, diare. Cepat atau lambat, kuman-kuman di sekitar X menjadi kebal terhadap berbagai antibiotik.  Bila kuman yang resisten terhadap antibiotik tersebut menyerang anak Y, maka anak Y otomatis juga tiurut dirugikan, bukan hanya anak X.

Antibiotic resistance dapat membahayakan jiwa dan memperberat kondisi dan penderitaan si pasien yang mungkin infeksinya sebenarnya tidak berat tetapi kumannya tidak dapat dibunuh oleh berbagai antibiotik (padahal sebelumnya, infeksi kuman ni dengan mudah dapat diatasi). Kuman yang kebal terhadap antibiotik ini –berkembang biak dengan cepat, menyerang anggota keluarga lainnya, tetangga, teman sekolah, teman kerja – mengancam seluruh komunitas. Lingkungan terancam infeksi oleh kuman jenis baru, yang sudah berubah bentuk, yang lebih ganas, kuman yang sulit dibunuh oleh antibiotik.

Hmmm .. bagaimana apa selama ini anda sudah RUD atau belum? kalau belum ..  gak papa ayo sama-sama mulai dari sekarang .. :)

Abi jadi pengacara Air Susu Ibu (ASI)

Sekarang mo nulis tentang ASI, bukan bermaksud untuk nyaingin blog Umminya :), tapi anggap saja kata pengantar aka pendahuluan sebelum Umminya kembali dari puasa ngeblog lantaran konsentrasi full mengurus buah hati kami "Shafiyyah Kalila".

Hmm disini saya juga hanya akan menulis dari sisi saya sebagai Abi (Bahasa Arab yang berarti Bapakku) dari anak yang sedang mencoba untuk ASI Ekslusif 6 bulan dan insya Allah akan dilanjutkan sampai 2 tahun *doain ya*, sedangkan tentang masalah ilmiah dan pendapat ahli, sertar referensi-referensi lainnya, nanti aja ditulis ama Umminya, yang emang sudah koleksi dari jauh-jauh hari referensi tentang ASI baik itu artikel di internet maupun buku-buku.

Hmm, sekedar informasi bagi yang belum tau, putriku Shafiyyah Kalila, lahir pada tanggal 17 Juni 2008, bertepatan dengan ulang tahun Palembang *kata sejarawan sih, soalnya gak ngecek sendiri :)*.

Tentang masalah ASI ini, Umminya dari kapan hari sudah sering forward banyak link yang berkaitan dengan ASI ini dari berbagai sisi dan tentunya sumber juga. Tujuannya sih katanya biar Abinya ini bisa jadi pengacara ASI di keluarga dan lingkungan yang bisa membela hak Ibu dan Anaknya *doain ya bisa jadi pengacara yang baik*, berhubung kurang kondusifnya lingkungan kita terhadap dukungan ASI ini, yang lebih dikarenakan kurangnya ilmu sekitar kita dan juga dahsyatnya kampanye tidak sehat dari pihak yang tidak senang dengan ASI, meskipun sudah banyak himbauan untuk ASI ini baik dari pemerintah dengan Depkes-nya, lembaga-lembaga kesehatan dunia, bahkan agama kita sendiri sudah mengajarkan masalah ASI atau menyusui ini.

Saya juga baru tahu tentang beberapa penelitian medis yang belum umum kita ketahui *atau hanya Bair aja ya?*, seperti fakta bahwa bayi yang baru lahir itu tidak apa-apa kalau tidak minum selama 2 hari sehingga sabar aja dan yakin aja jika dalam 1-2 hari ASI belum keluar. Tapi secara umum saya yakin pada dasarnya kita semua sudah sadar dan tahu manfaat ASI Eklusif dan menyusui anak sampai usia 2 tahun ini, cuman berdasarkan informasi cerita dan pengalaman yang saya baca, lihat, dengar dan rasakan lebih banyak dikarenakan kurang Percaya Diri saja ketimbang menggampangkan manfaat ASI.

Padahal selain tahu manfaat ASI yang sangat besar, tidak jarang kita temui orang tua yang mengeluh dengan harga susu bayi yang sangat tinggi, kenyataannya kalau belanja ke supermarket bisa dilihat susu formula termasuk barang ekslusif sampai-sampai tidak jarang harus di beri alarm pengaman *ck ck ck*.

Terus terang dalam kondisi saya yang sedang pas-pasan aka prihatin bukan hanya tidak perlu khawatir menghabiskan separuh uang gaji untuk membeli susu formula untuk bayi sebagaimana curhatan salah seorang keluarga yang masih tahap training di kantornya, saya malah merasa bahagia dan lega bisa memberikan yang terbaik untuk anak saya, sebagai amanah besar dari Allah Subhanawata'ala.